Adiwiyata Sebagai Laboratorium IPA Masa Depan

Dewasa ini sering dijumpai proses pembelajaran yang dilakukan guru di ruang kelas,  tanpa disadari menyebabkan permasalahan pada diri siswa. Permasalahan tersebut diantaranya siswa jenuh dengan pembelajaran yang monoton, tidak variatif, dan abstrak, yang menyebabkan siswa menjadi bosan terhadap pembelajaran yang diterima, sehingga menyebabkan prestasi siswa tidak sesuai yang diharapkan. Ahmad Saeifudin menyatakan “Bagi sebagian guru, indoor learning tak bisa ditawar-tawar. Padahal, ia memiliki banyak kelemahan, yakni sangat potensial membuat siswa jenuh, apalagi jika pelajaran itu kurang diminati”

Pada pembelajaran IPA khususnya pada materi biologi, materi yang disampaikan tidak cukup dijelaskan di depan kelas yang sifatnya hanya teori, contoh yang abstrak atau hanya sekedar dibayangkan saja, tetapi harus sedapat mungkin diejawantahkan dalam bentuk sesuatu yang konkrit, nyata dan bahkan dikaitkan dengan pengalaman dan kegiatan keseharian siswa. Dengan demikian pembelajaran kontektual sangat penting dalam proses pembelajaran siswa.  Menurut penelitian Dewey (1916) yang menyimpulkan bahwa siswa akan belajar dengan baik jika apa yang dipelajari terkait dengan apa yang diketahui dan dengan kegiatan atau peristiwa yang terjadi di sekelilingnya. Selain itu juga menurut Johnson 2001:25 (dalam Nurhadi) model pembelajaran kontektual merupakan suatu proses pendidikan yang bertujuan membantu siswa melihat makna dalam bahan pelajaran yang mereka pelajari dengan cara menghubungkannya dengan konteks kehidupan nyata mereka sehari-hari yaitu dengan konteks lingkungan pribadi, sosial dan budayanya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kontektual (Contextual Teaching and Learning) merupakan suatu proses pendidikan yang holistic dan bertujuan memotivasi siswa untuk memahami makna materi pembelajaran yang dipelajarinya dengan meningkatkan materi tersebut dengan kontek kehidupan mereka sehari hari.

Pada pembelajaran IPA khususnya materi biologi, sekolah adiwiyata dominan peranannya dan dapat dijadikan sebagai pembelajaran outdoor dan sekaligus sebagai laboratorium IPA. Peter F. Ducker dalam Mizan Learning Center menyatakan “Belajar di era sekarang ini tidaklah harus berada di sebuah ruangan”.

 Hal ini selaras dengan program pemerintah dengan adanya sekolah adiwiyata. Dengan demikian adiwiyata sekolah tidak sekedar ingin meraih juara dan menciptakan lingkungan yang nyaman untuk belajar saja, tetapi lebih penting lagi dapat meningkatkan prestasi siswa dengan cara menfungsikan lingkungan sekolah  sebagai laboratorium dan sumber belajar IPA. Pembelajaran IPA khususnya biologi, dengan menjadikan lingkungan sebagai sumber belajar dan laboratorium, mampu menjawab permasalahan yang muncul pada diri siswa. Pembelajaran di luar kelas atau lingkungan sekolah mampu mengatasi kejenuhan, rasa bosan, dan pembelajaran lebih konkrit atau nyata sehingga siswa menjadi lebih senang karena pembelajaran lebih variatif. Hal ini tentunya akan berakibat pada meningkatnya  prestasi siswa. Suratno mengemukakan “Pemahaman tentang pelestarian lingkungan adalah hal utama yang ingin ditumbuhkan dalam diri anak-anak sejak dini, dan melakukan kegiatan pembelajaran secara langsung diharapkan dapat mencapai harapan tersebut”.(http://www.geocities.Com, 12 Oktober 2004)

Berdasarkan pendapat tersebut di atas, maka sudah saatnya sekolah menerapkan pembelajaran di luar kelas (outdoor) dan memanfaatkan sekolah adiwiyata sebagai sumber belajar dan laboratorium agar pembelajaran lebih bervariasi. Dengan demikian  siswa ditunjukkan relevansi pembelajaran dengan konteks keseharian dalam kehidupan nyata. Siswa dibawa ke lingkungan sekolah sehingga dapat ditanamkan esensi, urgensi, dan relevansi pelajaran tersebut dengan kehidupan nyata. Dengan demikian siswa memperoleh pengalaman belajar secara komprehensif dan dapat meningkatkan prestasi belajar  sesuai yang diharapkan.

Ditulis : ANDI PRATIKNO, S.Pd_Guru IPA SMP Negeri 2 Tangen

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.

Tinggalkan Balasan