Materi Perkembangbiakan Pada Tumbuhan sebagai Penunjang Penguatan Profil Pelajar Pancasila

Dewasa ini penerapan Kurikulum Merdeka yang dikenal dengan kurikulum IKM (Implementasi Kurikulum Merdeka) mulai diterapkan diberbagai sekolah. Implementasi Kurikulum Merdeka sebagai komponen utamanya adalah pengembangan profil pelajar Pancasila. Oleh karena itu, terdapat alokasi jam pelajaran untuk projek penguatan profil pelajar Pancasila yang proporsinya sekitar 20-30% dari total jam pelajaran dalam setahun.

https://docs.google.com/presentation/d/1jbRV8F4eDRTmghr6h3pfM0GvNDqfsxV_/edit?usp=sharing&ouid=115068396473732317325&rtpof=true&sd=true

Kompetensi profil pelajar Pancasila dirumuskan berdasarkan 6 dimensi yaitu (1) Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia; (2) Berkebhinekaan global; (3) Bergotong-royong; (4) Mandiri; (5) Bernalar kritis; serta (6) Kreatif (Kepmendikbudristek, 2022). Kompetensi profil pelajar Pancasila dibentuk dengan dukungan budaya sekolah, pembelajaran intrakurikuler, kegiatan ekstrakurikuler, serta projek berbasis tema tertentu. Metode tersebut dikenal dengan projek penguatan profil pelajar Pancasila, yang merupakan  projek lintas disiplin ilmu yang bersifat konseptual dan berbasis pada kebutuhan atau permasalahan yang ada di masyarakat. Melalui kegiatan projek, peserta didik dapat mempelajari isu-isu penting dikehidupan masyarakat, seperti perubahan iklim, kesehatan mental, kewirausahaan, berdemokrasi, dan sebagainya. Kepmendikbudristek Nomor 262/M/2022 sudah menentukan tema yang bisa dipilih untuk dijabarkan menjadi topik projek penguatan profil pelajar Pancasila. Tema untuk jenjang SMP meliputi gaya hidup berkelanjutan, kearifan lokal, bhinneka tunggal ika, bangunlah jiwa dan raganya, suara demokrasi, rekayasa teknologi dan kewirausahaan.

Peserta didik juga didorong melakukan aksi nyata untuk menjawab permasalahan yang terkait dengan isu-isu dan permasalahan yang ada di lingkungan sekitar. Pada pembelajaran IPA materi klasifikasi tumbuhan kelas 7 semester 1 membahas mengenai pengklasifikasian tumbuhan. Klasifikasi tumbuhan  didasarkan pada persamaan dan perbedaan ciri yang dimiliki tumbuhan tersebut (Wahono dkk, 2017) . Sebagai contoh klasifikasi pada tumbuhan jahe-jahean atau zingiberaceae.  Ciri yang mendasari tumbuhan tersebut dimasukkan dalam zingiberaceae adalah rimpang tumbuh menjalar di dalam tanah. Daun mempunyai pelapah yang memeluk batang dan letak daunnya berseling atau tersusun spiral. Mahkota bunganya berjumlah tiga dan kelopak bunganya berbentuk tabung.

Secara rinci klasifikasi pada tanaman jahe adalah Kingdom : Plantae, Divisio : Spermatophyta, Subdivisio : Angiospermae, Kelas : Monocotyledonae, Ordo : Zingiberales, Famili : Zingiberaceae, Genus : Zingiber, Spesies : Zingiber officinale Rosc (Rukmana, 2000). Tanaman lain yang satu famili dengan tanaman jahe antara lain tanaman kunyit (Curcuma dosmetica), lengkuas (Alpinia galanga), kencur (Kaempferia galanga L), kecombrang (Nicolaia speciosa), temulawak (Curcuma xanthorrhiza), lempuyang (Zingiber aromaticum Vall.), temu giring (Curcuma heyneane Val.) (Santoso, 1989).

Famili Zingiberaceae mengandung amilum dan minyak atsiri yang banyak digunakan sebagai bahan obat tradisional yang bernilai ekonomi tinggi. Berdasarkan hal tersebut, maka kelompok tumbuhan ini perlu dilestarikan karena selain kaya manfaat juga merupakan kearifan lokal yang turun temurun dimanfaatkan masyarakat untuk berbagai keperluan. Dengan adanya perkembangan zaman yang semakin modern, banyak generasi muda yang enggan dan menganggap kuno untuk melestarikan kearifan lokal tersebut. Dengan adanya projek penguatan profil pelajar pancasila yang menjadi ruh dari kurikulum merdeka, sudah tepat kearifan lokal tersebut dijadikan salah satu alternatif projek penguatan profil pelajar pancasila di kelas 7 SMP Negeri 2 Tangen, yang bertujuan nguri-uri budaya dan kearifan lokal disamping manfaatnya yang bernilai ekonomi yang tinggi.

Dengan dijadikannya projek penguatan profil pelajar pancasila, maka kearifan lokal tersebut dapat dilestarikan dan menghasilkan produk yang bisa dinikmati masyarakat luas baik manfaat, nilai ekonomi maupun upaya pengurangan jumlah pengangguran. Produk dari projek kearifan lokal ini meliputi Jamu tradisional jawa, kunir asem, beras kencur, sabun, kosmetik, pengharum ruangan dan obat-obatan.

Dengan demikian, generasi muda mendatang diharapkan menjaga serta melestarikan kearifan lokal ini sebagai budaya yang mampu meningkatkan ekonomi masyarakat luas.

Tinggalkan Balasan