MEMBUDAYAKAN 5S MENINGKATKAN KARAKTER PESERTA DIDIK

Penulis : Slamet Indarto, M.Pd Kepala Sekolah SMP Negeri 2 Tangen

Gasebo SMP Negeri 2 Tangen

STARO, Selasa, 31 Januari 2023, Sekolah adalah tempat untuk belajar mengajar bagi peserta didik melalui bimbingan guru. Selain itu sekolah juga merupakan tempat untuk pembentukan karakter bagi peserta didik yang sangat mempengaruhi perkembangan kognitif dan afektif peserta didik. Dalam kegiatan belajar mengajar tidak hanya kompetensi kognitif saja yang diajarkan kepada peserta didik tetapi kompetansi sikap sosial dan spriritual juga diajarkan di sekolah. Kompetensi sosial dan spiritual diharapkan mampu membentuk karakter peserta didik menjadi lebih baik.

Menurut Kementrian Pendidikan Nasional ada 18 karakter yang dapat merubah peserta didik kearah yang lebih baik diantaranya adalah : religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, tanggung jawab. Hal ini sangat penting dimiliki oleh peserta didik agar dapat menjadi pegangan yang kuat sebagai modal dasar dalam menghadapi kehidupan di masa yang akan datang baik sebagai individu maupun dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.

Namun akhir-akhir ini nilai – nilai karakter yang berkembang di sekolah mulai menurun seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh karena itu, perlu dipikirkan kembali bagaimana cara meningkatkan nilai-nilai karakter kepada peserta didik agar tidak kehilangan nilai-nilai karakter. Peningkatan nilai-nilai karakter peserta didik dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya adalah dengan membudayakan 5S ( Salam, Semyum, Sapa, Sopan dan Santun).

Menurut Gunawan (2012 : 24-25) mengatakan bahwa pendidikan karakter menanamkan kebiasaan, sehingga siswa dapat memahami (kognitif) tentang mana yang benar dan mana yang salah, mampu merasakan (afektif) nilai yang baik dan dapat dilakukannya. Sedangkan menurut Prasetyo & Rivasintha (2015) pendidikan karakter juga merupakan suatu proses atau wadah yang mempunyai sistematika untuk menanamkan nilai-nilai karakter yang meliputi pengetahuan, kesadaran, serta tindakan.

Berdasarkan paparan para ahli di atas maka dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter adalah merupakan suatu proses atau wadah untuk menanamkan kebiasaan nilai-nilai yang baik yang meliputi pengetahuan, kesadaran dan tindakan. Pendidikan karakter merupakan proses pembudayaan dan pemberdayaan nilai-nilai luhur dalam lingkungan satuan pendidikan (sekolah), keluarga, dan masyarakat.

Berpijak dari paparan di atas dan melihat hasil rapor pendidikan sekolah maka SMP Negeri 2 Tangen sanget perlu meningkatkan karakter peserta didiknya, salah satu penerapanya adalah melalui membudayakan 5S setiap hari. Cara yang dapat dilakukan adalah dengan 1) mensosialisasikan kepada warga sekolah untuk melakukan 5S setiap hari, 2) guru piket agar datang lebih awal untuk berdiri di pintu gerbang sekolah dan membiasakan memberikan salam 5S kepada setiap peserta didik yang datang, 3) membiasakan setiap masuk kelas sebelum mengajar terlebih dahulu memberikan salam 5S, 4) mengajak kepada semua warga sekolah untuk membiasakan diri memberi salam 5S kepada setiap tamu yang datang, 5) untuk membudayakan 5S di SMP Negeri 2 Tangen dilaksanakan dengan gerakan ( dipaksa, terpaksa, terbiasa, dan budaya)  maka hal itu akan menjadi budaya dilingkungan sekolah.

Hakekat dari dipaksa adalah pelaksanaan pembudayaan 5S (salam, senyum, sapa, sopan dan santun) yang dipaksakan kepada peserta didik SMP Negeri 2 Tangen diharapkan  nantinya akan menjadi terpaksa untuk menjalankannya. Adapun muara dipaksa di sini yang diharapkan adalah akan menjadi suatu yang terpaksa harus dijalankannya.

Hakekat dari terpaksa adalah berbuat di luar kemauan sendiri karena terdesak oleh keadaan, mau tidak mau harus dan tidak boleh tidak. Hal-hal tersebut mencakup semua tingkah laku peserta didik yang mau tidak mau harus menjalankannya karena ada sesuatu yang memaksanya. Dalam hal pembudayaan 5S yang harus dijalankan peserta didik di SMP Negeri 2 Tangen tersebut diharapkan nantinya akan menjadi terbiasa dalam kehidupan sehari-hari. Adapun muara terpaksa di sini yang diharapkan adalah akan menjadi suatu kebiasaan.

Hakekat dari terbiasa adalah  sesuatu yang lazim dilakukan. Hal tersebut mencakup semua tingkah laku dan kebiasaan. Dalam hal pembudayaan 5S di sini diharapkan nantinya  akan menjadi budaya dalam kehidupan sehari-hari dilingkungan SMP Negeri 2 Tangen.

Hakekat budaya, budaya adalah merupakan hasil cipta atau karya manusia, pembiasaan dipaksa, terpaksa dan terbiasa adalah merupakan upaya atau ide gagasan manusia, dari pembiasaan tersebut maka akan tercipta yang namanya budaya, jika segala bentuk gagasan ide atau apapun kalua sudah membudaya maka hal tersebut akan selalu dilakukan oleh manusia. Demikian halnya denga  pembiasaan 5S di SMP Negeri 2 Tangen jika sudah menjadi budaya maka hal tersebut akal selalu dilakukan dilingkungan sekolah setiap hari.

Dengan dilaksanakanya budaya 5S di SMP Negeri 2 Tangen oleh seluruh komponen sekolah maka dapat dipastikan nilai-nilai karakter yang dimiliki peserta didik akan meningkat. Dengan meningkatnya karakter peserta didik diharapkan akan mendorong peserta didik untuk meningkatkan kompetensi pengetahuanya dan pada akhirnya akan meningkatkan prestasi belajarnya.

Untuk mewujudkan semuanya itu dilingkungan SMP Negeri 2 Tangen tentunya dibutuhkan komitmen bersama semua komponen sekolah baik ( kepala sekolah, guru karyawan, komite sekolah dan peserta didik) untuk melakukan gerakan dipaksa, terpaksa, terbiasa dan budaya. Tanpa komitmen Bersama mustahil semua itu akan terwujud.

Tinggalkan Balasan